21 April 2012

Pasutri Ini Insomnia Usai Menang Lotre Rp 2,1 Triliun

TRIBUNNEWS.COM, LONDON - Pensiunan dari Skotlandia memastikan diri sebagai pemenang EuroMillions, lotre terbesar di Eropa sebesar 161 juta pound atau sekitar Rp 2,1 triliun.
Dengan hadiah sebesar ini, sepasang suami istri ini masuk dalam daftar 500 orang terkaya di Inggris.
Colin (64), and Christine Weir (55), dari Ayrshire secara resmi menerima hadiah dalam bentuk cek besar dalam jumpa pers di Falkirk, Skotlandia.

Mereka menyatakan tidak bisa tidur sepanjang malam untuk memikirkan berbagai rencana setelah mendapatkan uang sebanyak itu.

"Kami hanya duduk. Kami benar-benar tidak dapat berbuat apapun dan tidak dapat tidur. Kami hanya ngobrol," kata Nyonya Weir.

Keduanya dikatakan sakit-sakitan dalam beberapa tahun terakhir dan tidak dapat bekerja.
Nyonya Weir menjadi perawat selama 37 tahun namun berhenti tiga tahun lalu karena kondisi kesehatannya.
Putri mereka Carly, 24 tahun, masih kuliah. Putra mereka Jamie, 22 tahun, bekerja di toko.
"Anak-anak punya peluang hidup bagus dan mereka dapat melakukan apapun yang mereka inginkan sekarang," kata Colin Weir.

Mereka merencanakan membeli rumah untuk anak-anak mereka dan membayar kursus mengemudi bagi keduanya.
Colin Weir adalah pendukung bola Liga Spanyol dan ia merencanakan untuk menonton Barcelona dengan karcis paling mahal di stadion Nou Camp.
Ia dan istrinya secara rutin membeli lotre termasuk EuroMillions yang dimulai tahun 2004.
Rekor lotre Eropa sebelumnya juga diraih oleh orang Inggris sejumlah 113 juta pound bulan Oktober lalu.
EuroMillions dapat diikuti oleh penduduk di Eropa, termasuk Prancis, Belgia dan Austria.(*) 

Seisi Desa Menang Lotre, hanya Satu Orang yang Tidak Beruntung


Sebuah desa kecil bernama Sodeto di Spanyol berhasil memenangi $ 950 juta (sekitar Rp 8,5 triliun) dalam sebuah lotre. Penduduk desa yang terdiri dari para petani dan pekerja bangunan itu menikmati bayaran $ 130.000 (sekitar Rp 1,1 miliar) per warga.

Tetapi di saat hampir seluruh Sodeto menikmati kekayaan baru itu, seorang warga justru tidak menerima apa-apa. Costis Mitsotakis, seorang sutradara film dari Yunani yang pindah ke desa itu, adalah satu-satunya warga desa Sodeto yang tidak membeli tiket lotre!

Meski demikian, Mitsotakis juga mendapat keuntungan secara tidak langsung. Dia sudah berulang kali gagal menjual sebidang tanah. Sehari setelah pengumuman lotre, seorang tetangga menelepon dan mengatakan akan membeli tanah itu. Keesokan harinya seorang tetangga lagi menelepon. Tapi Mr. Mitsotakis tak mau terlibat dalam perang tawar-menawar. "Ini desa kecil," ujarnya. "Saya tidak ingin ada perasaan buruk."

Lotre nasional Spanyol, yang dikenal juga sebagai "El Gordo" (yang gendut), pertama kali dilakukan pada tahun 1812 dan dilakukan dengan cara yang berbeda dengan lotre di Amerika. Contohnya, tahun ini ada 1.800 tiket juara satu, masing-masing punya nomor yang sama: 58268. Masing-masing tiket punya hadiah sekitar $ 520.000 (sekitar Rp 4,6 miliar). Tapi karena harga satu tiketnya $ 26 (sekitar Rp 236.000), satu tiket boleh dibagi oleh enam "peserta."

Para penduduk Sodeto kini dilaporkan terganggu oleh banyaknya orang yang berusaha menjual barang kepada mereka. Masalah lain juga muncul. Karena semua orang sudah kaya, siapa yang mau melayani sesama?

Seperti yang dikatakan Walikota Rosa Pons, "Beberapa wanita bilang mereka ingin pergi ke salon. Tapi tukang salon itu juga menang lotre. Dan tukang salon bilang, 'Saya tidak bekerja hari ini.'"

Masa Depanku Setelah Hancurnya Perusahaan Papa 2

…… Aku hanya terduduk lemas, bagaimana seandainya cita-citaku untuk menjadi dokter kandas. Aku tak habis pikir akan mengalami situasi yang tak pernah aku duga sebelumnya. Selama ini apa yang aku butuhkan selalu dicukupi oleh orang tuaku, hal sekecil apapun aku tak perlu kuatir tapi sekarang semuanya harus kurelakan. Lalu bagaimana masa depanku nanti setelah perusahaan Papa hancur seperti ini.

30 April 2006

Hari ini adalah hari pertama setelah kepindahan kami ke rumah sederhana ini, tidak ada lagi mobil, tidak ada lagi kamar dengan AC. Mulai hari ini aku menjalani kehidupanku dengan status baru, tapi aku bertekad untuk tidak menyerah, satu bulan lagi Ujian Akhir Nasional dan aku mau berjuang untuk bisa melewati semua ini. Setidaknya aku bersyukur karena sudah tiga tahun yang lalu Mama membiasakan kami tidak manja dengan pekerjaan rumah tangga sehingga aku terbiasa mandiri dan tidak bergantung pada bantuan orang untuk menyelesaikan pekerjaan rumah.

Papa hanya terlihat selalu termenung setiap waktu, entah apa yang dia pikirkan, entah apa yang dia akan rencanakan. Aku tak begitu mengerti perasaannya, mungkin dia terpukul dam merasa kalah dengan berakhirnya bisnis yang diperjuangkan Papa mulai dari nol selama bertahun-tahun ini, yang aku perjuangkan sekarang sekolahku, masa depanku setelah aku memahami bahwa orang tuaku sudah tak lagi kuharapkan mampu menyokong pendidikanku nantinya. Untunglah untuk menyelesaikan pendidikan SMA-ku masih tersisa sedikit dana dari sisa penjualan asset-aset keluarga, tapi selepasnya aku dari SMA, aku masih bertekad untuk dapat menempuh pendidikan di bangku kuliah bagaimanapun caranya karena bagiku pendidikan adalah investasi jangka panjang.

Sedangkan Mama berusaha untuk mencari penghasilan dengan menjahit baju. Dua mesin jahit milik Mama sengaja dipertahankan, selain harganya tidak seberapa, memang maksud Mama adalah dengan memanfaatkan kembali hobby-nya untuk menjahit baju. Mama menyulap ruang tamu kami yang kecil menjadi butik ala kadarnya, tidak hanya menjahit apabila ada pesanan dari teman-temannya tetapi Mama juga menjahit banyak baju untuk di-display di rumah. Hasilnya tidak seberapa tapi lumayan dengan itu masih bisa mendapat pemasukan untuk menghidupi kami sekeluarga dengan sekedarnya.

Untuk transportasiku ke sekolah, aku terpaksa naik bus. Lucu rasanya, dulu ketika aku bisa duduk di mobil sedan dengan AC tak pernah terbayangkan pagi-pagi harus berdiri di pinggir jalan menunggu bus kota menuju sekolahku, berdesak-desakan dengan penumpang lain di bus. Berbagi tempat duduk dengan orang yang tidak dikenal, bahkan seringkali tidak kebagian tempat duduk sehingga harus betah berdiri selama di perjalanan. Di bus semua jadi sama, entah kaya entah miskin, apapun statusnya dan sama sekali tidak penting menyandang status mantan anak orang kaya seperti aku.

Memang harta tidak membuat bahagia, tapi jatuh dalam keterpurukan ini membuat aku sedikit tertekan. Beberapa waktu ini aku merasa nyeri di dada seperti sesak napas, susah ketika ingin menarik napas yang dalam. Kata Mama mungkin karena aku terlalu sering di luar dengan kondisi cuaca yang tidak baik, angin yang kencang atau apalah. Entahlah aku tidak tahu, uang untuk periksa ke dokter kami tak punya, aku harus menahan pedih di hatiku menghadapi kenyataan ini. Sering aku menangis di malam hari, aku takut kalau-kalau aku tidak mempunyai kesempatan untuk meneruskan kuliah nantinya. Aku kuatir dengan masa depan keluarga, aku kuatir dengan kondisi Papa pasca usahanya yang bangkrut. Aku sedih karena Mama harus berjuang untuk menghidupi kami, sedangkan Rafi cukup beruntung, dia mendapat beasiswa untuk semester depan. Kelak kalau aku kuliah, aku juga harus mampu mendapat beasiswa tapi biaya masuk kuliah cukup besar nominalnya sekitar 5 juta lebih ketika Rafi masuk kuliah dulu. Jumlah itu mungkin tidak ada artinya bagi kami dulu, tapi sekarang uang darimana sebanyak itu.

27 Juni 2006

Hari ini adalah hari pengumuman kelulusan. Aku sengaja tak menampakkan diri di sekolah sama sekali, bukan karena aku takut tidak lulus tapi karena kebimbangan hatiku menghadapi rencana masa depanku nantinya.

“Ma, nanti berangkat ke sekolah naik apa?”, tanyaku pada Mama yang saat itu sedang berdandan

“Ya naik bus Nak, ngga apa-apa kog, Mama santai aja. Kamu kenapa belum siap-siap jam segini?”, tanya Mama padaku

“Aku malas Ma, aku di rumah aja. Mama ambil nilaiku sendiri aja ya Ma?”, pintaku pada Mama

“Yakin kamu ngga mau ikut?”, tanya Mama memastikan padaku

“Yakin Ma.”, jawabku singkat

“Ya sudah kalau begitu, Mama berangkat sendiri ya.”, pamit Mama padaku.

Hasil UAN-ku cukup lumayan, aku hampir tidak percaya mendapat nilai rata-rata 9 lebih dan peringkat 15 di antara sekitar 250 siswa kelas IPA. Hal ini membuat aku semangat untuk menyongsong SPMB minggu depan, ini harapanku untuk bisa kuliah dengan biaya yang murah di Universitas Negeri dan seperti cita-citaku aku menempatkan pilihan pertama di Pendidikan Dokter walau memang aku agak ragu apakah kami mampu membayar semua keperluan kuliahku nanti. Namun aku yakin masih ada Tuhan, kalau Ia berkendak pasti tidak ada mustahil.

5 Agustus 2006

Hari ini adalah pengumuman SPMB, hari yang aku tunggu-tunggu selama ini. Sebuah hari yang menjadi penentuan apakah cita-citaku menjadi dokter akan terwujud melalui pendidikan di universitas negeri, ya tentu saja, mana mungkin orang tuaku mampu menyekolahkan aku di universitas swasta. Selain karena nilai prestis yang tinggi apabila lolos melalui SPMB, juga karena melalui SPMB ini aku dapat memperoleh kesempatan untuk meneruskan ke perguruan tinggi negeri dengan biaya pendidikan yang paling murah.

“Dit, nanti aku samperin ke rumah jam 9 malam yah”, pesan singkat Aji padaku melalui HP ku

“Oke, makasih ya Ji, kita nanti ke warnet mana?”, balasku pada AJi

“Warnet di dekat rumah Dina aja, dia juga mau barengan lihat pengumuman SPMB di warnet.”, balas Aji padaku

*******

Tiga jam kami habiskan mengobrol di rumah Dina sambil menunggu tengah malam menuju pengumuman SPBM online, kami tidak sabar kalau harus menunggu esok pagi melalui pengumuman di surat kabar. Jadi kami memutuskan untuk bersama-sama ke warnet untuk mengetahui hasil SPMB tepat tengah malam nanti. Aku benar-benar tidak sabar, hampir setiap menit aku memandangi jam tangan, bahkan pembicaraan kami jadi hambar karena sama-sama gugup menunggu hasil SPMB.

“Kalau aku tidak keterima SPMB, Mama sudah mendaftarkan aku di universitas swasta (menyebut nama kampus bergengsi di Jogja), kalau kalian bagaimana?”, tanya Dina kepada kami

“Aku masih berharap diterima di universitas dengan ikatan dinas (menyebut nama kampus kedinasan bergengsi Tangerang)”, jawab Aji

“Kalau kami gimana Dit?”, tanya Dina padaku

“Kalau universitas swasta sepertinya aku belum ada keinginan ke sana Din, jujur aku belum tahu bagaimana seandainya aku tidak lolos SPMB. Untuk menunggu dan mengulang SPMB tahun depan sepertinya aku pun enggan.”, jawabku padanya dengan hati yang tak karuan

******

Tampaknya warnet malam ini dipenuhi dengan peserta SPMB yang memang seperti kami sudah tidak sabar mengetahui hasil pengumuman, namun kami masih beruntung mendapatkan 2 PC tersisa. Aku dan Aji bergabung dalam satu PC sedangkan Dina mengakses satu PC seorang diri.

“Kamu duluan aja Ji”, pintaku pada Aji, jujur aku cukup nervous jadi mempersilakan Aji untuk mengakses terlebih dahulu.

Lalu setelah Aji memasukkan nomor registrasinya, maka yang tampil di monitor adalah dia lolos dalam pilihan pertama di Tekhnik Mesin salah satu universitas terbaik Indonesia di Kota Jogja.

“Wah, selamat ya Ji, kamu diterima di Tekhnik Mesin.”, kataku pada Aji dengan sedikit senyum getir, was-was dengan hasil tesku nantinya.

“Ok, sekarang giliran kamu Dit.”, kata Aji padaku sembari mengakses halaman utama web pengumuman SPMB itu.

“Selamat ya Dit, kamu jadi calon dokter sekarang.”, kata-kata itulah yang aku bayangkan diucapkan AJi kepadaku sesudah nampak hasil tes SPMB ku nanti.

Namun ternyata yang tampil adalah bahwa saya sama sekali TIDAK LOLOS dalam tes SPMB ini.

Damn, lengkap sudah, bisnis Papa hancur, kami hidup miskin dan sekarang kesempatanku untuk menjadi dokter melalui jalur SPMB, harapanku satu-satunya, hancur sudah.

Aku pulang dengan hati yang hancur, perasaan malu kepada teman-temanku. Apa jadinya jika semua temanku tahu seorang Dito, yang cukup berprestasi di kelas sama sekali tidak lolos jalur SPMB. Aku menyalahkan Tuhan yang bahkan tidak mengabulkan cita-citaku sama sekali. Sesampainya di rumah tak kuhiraukan sama sekali ketika Papa menanyai hasil SPMB-ku, aku segera mengurung diri di kamar, menangis sejadi-jadinya. Aku tak peduli kalau hari sudah terlarut malam, yang aku rasakan hanya pedih di hatiku, semua kejadian buruk yang menimpaku satu tahun belakangan ini.

6 Agustus 2006

Papa mendobrak paksa pintu kamarku ketika aku tak menjawab panggilannya sedari tadi pagi, mungkin dia berpikiran kalau-kalau aku menempuh jalan pintas karena kekecewaan teramat dalam yang aku rasakan semalam.

“Sudah pagi Dit, kamu makan dulu ya.”, bujuk Papa padaku sambil mengusap-usap kepalaku

Aku hanya menggelengkan kepala tanpa suara, bagiku hidupku sudah hancur. Cita-citaku harus kukubur, aku tak punya daya untuk menunggu satu tahun lagi untuk mengulang SPMB tahun depan.

Lalu untuk apa aku selama ini berdoa kepada Tuhan, kalau satu-satunya jalan untuk mewujudkan cita-citaku bahkan ditutup-Nya. Aku tak akan lagi mau berdoa, bagiku hidupku harus kuperjuangkan sendiri sekarang. Untuk apa aku selalu berdoa jika yang kami peroleh hanya kemalangan, kesedihan, kekurangan dan kehancuran. Apa artinya perjuanganku selama ini, sekolah dengan prestasi yang cukup membanggakan, memprioritaskan waktu untuk mengikuti bimbel tapi kegagalan yang aku dapatkan. Dimanakah Tuhan, apakah belum puas Dia menekan hidupku.

Masa Depanku Setelah Hancurnya Perusahaan Papa 1

15 Agustus 2005
“Mah, aku berangkat sekolah yah”, pamitku pada Mama sembari menerima beberapa lembar uang ratusan ribu darinya.
“Siang nanti ada jadwal praktikum kan? Jas lab-nya udah dibawa?,” tanya Mama memastikan padaku
“Udah kog”, jawabku singkat setelah aku menggenggam kunci mobilku.


AD4 1 TO adalah plat nomor polisi mobil Jazz warna biru yang dihadiahkan Papa kepadaku saat aku berulang tahun yang ke-16. Aku terlahir sebagai anak bungsu dari dua bersaudara, kakak laki-lakiku, Rafi, saat ini masih meneruskan kuliahnya di Universitas Negeri di kota ini pada program studi paling bergengsi di fakultas ilmu sosial dan politik. Sedangkan aku sendiri saat ini masih duduk di bangku SMA kelas XII Ipa 1 SMA Negeri paling favorit di kotaku, sebuah kota kecil di Jawa Tengah.

Walau aku bukanlah siswa paling cerdas di kelas, tapi setidaknya dari sejak kecil aku sering memperoleh peringkat di kelas. Dan keberhasilanku masuk ke sekolah ini bukanlah hasil dari “amplop” orang tuaku, tapi karena anugerah kecerdasan yang dikaruniakan Tuhan kepadaku.


Pagi ini seperti biasa aku mengendari mobil sedanku menuju sekolah, memang agak sedikit kotor karena kemarin sore sepulang dari les di sebuah bimbingan belajar cuaca hujan. Sedangkan pagi tadi aku belum sempat untuk mencucinya, memang kami berasal dari keluarga yang berada tapi semenjak masuk SMA Mama memutuskan untuk berhenti menggunakan jasa pembantu dan sopir. Selain untuk membuat kami mandiri dengan kepentingan kami sendiri, saat itu karena sopir Papa meminta istirahat karena usianya yang sudah renta dan sakit-sakitan, sedangkan Mbok Parmi, pembantu sekaligus perawatku dari kecil meninggal dunia juga karena factor usia.
“Sekarang kan sudah SMA, sudah besar, ngga perlu pake pembantu lagi ya.”, begitu kata Mama dua tahun yang lalu.
Walau membutuhkan sedikit penyesuaian namun aku bisa membiasakan diri mengerjakan pekerjaan rumah tanggaku, teman-temanku sering tidak percaya kalau aku mencuci baju sendiri, menyetrika bajuku, membereskan kamar, mengepel lantai kamarku, bahkan membersihkan toilet di kamarku.


“Selamat Pagi Anak-anak, seperti yang sudah Ibu sampaikan kemarin bahwa hari ini sekolah akan mengadakan psikotes khusus untuk siswa kelas XII. Fungsi daripada psikotes ini adalah salah satunya supaya dapat membantu kalian memutuskan program study apa yang sebaiknya kalian ambil di perguruan tinggi nanti setelah kalian lulus dari sekolah ini.”, begitulah prakata dari Ibu Endang, Wali Kelas kami sebelum dimulainya psikotes hari ini.

22 September 2005
“Hasil psikotesmu gimana Dit?”, tanya Aji kepadaku
“Disarankan masuk ke Pendidikan Dokter, Ji”, jawabku sembari menunjukkan lembaran hasil psikotes kepadanya
“Wah tepat seperti cita-cita kamu ya.”, sambut Aji
“Doakan aja Ji, nanti kalo aku jadi dokter kamu boleh periksa gratis di tempatku, hehee.”, candaku pada Aji.
“Dit, malam nanti kita ngumpul di rumah Nisa, kita mau bahas tugas kelompok Biologi, semalam Nisa dan Dyra udah kabarin aku.”, kata Aji kepadaku
“Boleh ngga apa-apa, aku pulang les jam 4 sore kog Ji, tapi kamu nanti nyamperin ke rumah ya Ji, aku ngga ada kendaraan.”, pintaku pada Aji
“Emang mobil kamu kemana Dit, diservis yah?”, tanya Aji
“Iya Ji, baru diservis.”, jawabku singkat

Sebenarnya aku tidak berniat membohongi Aji, tapi aku sendiri juga tidak yakin dikemanakan mobilku oleh Papa. Ini sudah ketiga kalinya Papa meminjam mobilku, biasanya hanya sehari dua hari, tapi ini sudah lebih dari empat hari. Memang sih Papa memberikan kompensasi uang transport yang lebih banyak karena aku harus naik taksi ke sekolah, tapi aku jadi curiga. Papa hanya bilang kalau mobilku dipakai untuk keperluan pekerjaan.

24 November 2005
“Mah, udah tiga bulan SPP ku belum dibayar?”, tanyaku pada Mama
“Iya, nanti Mama bilang ke Papa ya, ini sekarang kamu sarapan dulu.”, jawab mama
“Tapi awal bulan depan aku sudah UAS, Mah, harus sudah dilunasi tunggakan SPP-ku ya?,” pintaku pada Mama.
Memang aku sering malas untuk mengingatkan uang SPP pada orang tuaku, sering kali aku membayar SPP setiap dua bulan sekali karena malas membayar bukan karena tidak punya uang. Tapi kali ini aku semakin merasa aneh dengan keadaan di rumah.

15 Desember 2005
Hari ini di sekolah tidak ada KBM, hanya ada remedial bagi siswa yang disarankan memperbaiki nilainya pasca UAS. Jadi aku memutuskan untuk mampir ke pabrik garment milik Papa, sudah lama aku tidak mampir ke sana apalagi dengan kesibukanku setiap hari harus les dan praktikum setelah jam sekolah usai.
“Siang Mas Dito.”, sapa Pak Joko kepadaku
“Siang Pak, gimana kabarnya? Lama ngga pernah ketemu ya?”, jawabku basa-basi kepada Pak Joko
“Baik mas, saya sehat, Mas Dito mau cari Papa yah, ada kog di kantor, langsung masuk aja Mas”, kata Pak Joko
“Iya Pak, makasih ya Pak.”, jawabku singkat pada Pak Joko
Sesaat sebelum aku masuk ke ruangan Papa, aku memutuskan untuk iseng masuk ke pabrik. Aktifitas pabrik cukup sepi, tidak ada aktifitas operasional berarti, hanya terlihat beberapa orang yang sedang membereskan tumpukan kain.
Aku jadi bingung, kenapa pabrik bisa sepi seperti ini. Lalu aku segera mencari Papa untuk menanyakan kondisi pabrik.
“Kita memang sengaja menurunkan produktivitas Dit, menurunnya permintaan pasar dan naiknya harga bahan baku membuat Papa memutuskan untuk mengurangi produksi karena memang stock bahan jadi kita masih cukup banyak.”, jabar Papa kepadaku.

15 Maret 2006
“Nak, malam nanti kamu ada jadwal belajar kelompok ngga? Ada yang ingin Papa dan Mama sampaikan kepada kamu?”, tanya Mama padaku saat aku hampir selesai sarapan
“Engga Ma, aku ngga ada jadwal malam ini, emang mau ngomongin apa Ma?”, tanyaku
“Ya sudah, nanti malam saja kita bicarakan ya.”, jawab Mama sambil membereskan piringku
“Iya Ma, Dito sekolah dulu ya.”, pamitku pada Mama sembari mencium tangannya


“Belakangan kalian mungkin menaruh curiga dengan kondisi keuangan keluarga kita yang kurang stabil. Usaha Papa memang sedang tidak lancar belakangan ini, sedikit pemasukan yang ada dengan beberapa kewajiban jangka pendek yang harus tetap dipenuhi. Belakangan Papa sudah tidak mampu lagi menutup kewajiban jangka pendek dari Bank yang harus segera dilunasi, dan dengan berat hati kita harus menerima keputusan pihak Bank yang akan menyita semua asset usaha Papa. Sedangkan rumah ini akan Papa jual juga untuk menutup kewajiban hutang Papa kepada supplier dan memberikan pesangon kepada pegawai-pegawai Papa, dan dengan berat hati Papa minta dengan sangat kalian bisa merelakan mobil kalian untuk Papa jual supaya kita bisa membeli rumah sederhana untuk kita melanjutkan hidup.”, begitu kata Papa dengan mata berkaca-kaca.

Seperti disambar petir rasanya, berdiri bulu romaku mendengar perkataan Papa. Usaha Papa berakhir, mobilku bahkan akan dijualnya, “Lalu bagaimana dengan kuliah Dito, Pah nantinya? Tahun ini kan Dito akan lulus SMA?”, tanyaku dengan nada keras pada Papa.
“Papa minta maaf Dito, Papa tidak pernah berpikir untuk menginvestasikan tabungan pendidikan buat kamu dari awal. Untuk saat ini Papa tidak bisa menjanjikan apa-apa. Sedangkan kamu Rafi, Papa harap kamu bersedia untuk mencari program beasiswa untuk meneruskan kuliahmu.”, jawab Papa dengan nada lemas.

Aku hanya terduduk lemas, bagaimana seandainya cita-citaku untuk menjadi dokter kandas. Aku tak habis pikir akan mengalami situasi yang tak pernah aku duga sebelumnya. Selama ini apa yang aku butuhkan selalu dicukupi oleh orang tuaku, hal sekecil apapun aku tak perlu kuatir tapi sekarang semuanya harus kurelakan. Lalu bagaimana masa depanku nanti setelah perusahaan Papa hancur seperti ini.
sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com