25 July 2010

Foto Super Ekstrim

Menjual Semua Hartanya untuk Sedekah, Malah Kaya Raya (Kisah Nyata)

Ini kisah nyata yang dialami teman bekas guru SMA saya beberapa tahun yang lalu. Kisah ini berhubungan dengan sedekah yang dilakukan dengan keiklasan luar biasa. Bagi saya terdengar agak ganjil dan mustahil, tapi memang itulah kenyataannya. Sepasang suami istri yang menyedekahkan hampir semua hartanya di jalan Allah, kemudian hidup mereka dipasrahkan pada Allah.

Pertama kali mendengar cerita ini, saya kurang percaya, tetapi melihat siapa yang menceritakan saya sangat mempercayai kebenaran cerita ini. Sayang sekali sewaktu saya dan bekas guru SMA saya akan mampir ke rumah pengusaha ini, sang pengusaha sedang keluar rumah.

Kisah ini sebenarnya diawali kegundahan sepasang suami istri akan kebahagiaan yang mereka dapatkan dari harta yang dimiliki. Mereka seakan tidak merasa bahagia walaupun hartanya berlimpah. Bagi mereka, yang terpenting adalah ketenangan hidup. Akhirnya suami istri ini mengambil keputusan yang tergolong nekat. Mereka memberikan hampir semua hartanya untuk mereka sedekahkan di jalan Allah. Hanya satu tujuan mereka; ingin hidup tenang dan tidak terbelenggu dengan nikmat sementara duniawi. Mobil dan beberapa harta berharga lain mereka jual dan mereka sedekahkan. Mereka tidak takut akan kelaparan, karena mereka yakin Allah pasti akan menolong dan memberikan jalan terbaik bagi mereka.

Allahu Akbar! Bukan kesengsaraan yang mereka dapatkan akibat membuang hampir semua harta mereka demi ingin memulai hidup sederhana itu, tetapi kekayaan suami istri ini malahan berlipat-lipat tak terhingga. Kini mereka mempunyai dua perusahaan besar, seakan-akan perusahaan yang dulu dijual untuk disedekahkan malahan diganti 2 perusahaan yang jauh lebih besar dan sangat terkenal oleh Allah. 

Kini mereka sangat bahagia dengan kekayaan yang mereka miliki. Lebih dahsyat lagi, sepasang suami istri ini ingin memulai lagi seperti yang mereka lakukan beberapa tahun yang lalu. Mereka akan menyedekahkan dua perusahaan itu, bukan imbalan Allah yang mereka harapkan, tapi perasaan sangat dekat dengan Allah dan merasa diperhatikan dan disayang Allah itulah yang tidak bisa digambarkan oleh mereka saat melakukan cara ini.

Sebenarnya langkah yang dilakukan oleh sepasang suami istri ini adalah langkah logis, cuma belum banyak orang yang berani melakukannya. Tentang sedekah Allah bahkan menjanjikan langsung akan melipat gandakan beberapa kali lipat jika manusia melakukannya dengan ikhlas hanya untuk Allah semata. Bahkan balasan atau pahala dari sedekah akan lebih berlipat-lipat lagi jika dilakukan untuk keperluan berjuang di jalan Allah. 

Semoga kisah di atas bisa membuka mata hati kita akan kekuatan sedekah. 
Sedekah seperti bernafas, kita harus mengeluarkan nafas kotor banyak untuk bisa menghirup udara bersih banyak pula. Jika mengeluarkan nafas kotor sedikit, akan sedikit pula udara bersih yang bisa kita hirup.
Sumber : http://motivasi.petamalang.com/menjual-semua-hartanya-untuk-sedekah/

Penyesalan (Hadiah Sang Ayah)

Seorang pemuda sebentar lagi akan diwisuda,sebentar lagi dia akan menjadi seorang sarjana, akhir dari jerih payahnya selama beberapa tahun di bangku pendidikan. Beberapa bulan yang lalu dia melewati sebuah showroom, dan saat itu dia jatuh cinta kepada sebuah mobil sport, keluaran terbaru dari Ford.

Selama beberapa bulan dia selalu membayangkan, nanti pada saat wisuda ayahnya pasti akan membelikan mobil itu kepadanya. Dia yakin, karena dia anak satu- satunya dan ayahnya sangat sayang padanya, sehingga dia yakin banget nanti dia pasti akan mendapatkan mobil itu.

Dia pun berangan-angan mengendarai mobil itu, bersenang-senang dengan teman-temannya, bahkan semua mimpinya itu dia ceritakan keteman-temannya. Saatnya pun tiba, siang itu, setelah wisuda, dia melangkah pasti ke ayahnya. Sang ayah tersenyum, dan dengan berlinang air mata karena terharu dia mengungkapkan betapa dia bangga akan anaknya, dan betapa dia mencintai anaknya itu. Lalu dia pun mengeluarkan sebuah bingkisan,... bukan sebuah kunci !

Dengan hati yang hancur sang anak menerima bingkisan itu, dan dengan sangat kecewa dia membukanya. Dan dibalik kertas kado itu ia menemukan sebuah Kitab Suci yang bersampulkan kulit asli, dikulit itu terukir indah namanya dengan tinta emas. Pemuda itu menjadi marah, dengan suara yang meninggi dia berteriak, "Yaahh... Ayah memang sangat mencintai saya, dengan semua uang ayah, ayah belikan alkitab ini untukku ? " Lalu dia membanting Kitab Suci itu dan lari meninggalkan ayahnya. Ayahnya tidak bisa berkata apa-apa, hatinya hancur, dia berdiri mematung ditonton beribu pasang mata yang hadir saat itu.

Tahun demi tahun berlalu, sang anak telah menjadi seorang yang sukses, dengan bermodalkan otaknya yang cemerlang dia berhasil menjadi seorang yang terpandang. Dia mempunyai rumah yang besar dan mewah, dan dikelilingi istri yang cantik dan anak-anak yang cerdas. Sementara itu ayahnya semakin tua dan tinggal sendiri. Sejak hari wisuda itu, anaknya pergi meninggalkan dia dan tak pernah menghubungi dia.

Dia berharap suatu saat dapat bertemu anaknya itu, hanya untuk meyakinkan dia betapa kasihnya pada anak itu. Sang anak pun kadang rindu dan ingin bertemu dengan sang ayah, tapi mengingat apa yang terjadi pada hari wisudanya, dia menjadi sakit hati dan sangat mendendam. Sampai suatu hari datang sebuah telegram dari kantor kejaksaan yang memberitakan bahwa ayahnya telah meninggal, dan sebelum ayahnya meninggal, dia mewariskan semua hartanya kepada anak satu-satunya itu. Sang anak disuruh menghadap Jaksa wilayah dan bersama-sama ke rumah ayahnya untuk mengurus semua harta peninggalannya.

Saat melangkah masuk ke rumah itu, mendadak hatinya menjadi sangat sedih, mengingat semua kenangan semasa dia tinggal di situ. Dia merasa sangat menyesal telah bersikap jelak terhadap ayahnya. Dengan bayangan-bayangan masa lalu yang menari-nari di matanya, dia menelusuri semua barang dirumah itu. Dan ketika dia membuka brankas ayahnya, dia menemukan Kitab Suci itu, masih terbungkus dengan kertas yang sama beberapa tahun yang lalu.

Dengan airmata berlinang, dia lalu memungut Kitab Suci itu, dan mulai membuka halamannya. Di halaman pertama Kitab Suci itu, dia membaca tulisan tangan ayahnya, "Sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling bermanfaat bagi orang lain. Dan Tuhan Maha Kaya dari segala apa yang ada di dunia ini" Selesai dia membaca tulisan itu, sesuatu jatuh dari bagian belakang Kitab Suci itu.

Dia memungutnya,.... sebuah kunci mobil ! Di gantungan kunci mobil itu tercetak nama dealer, sama dengan dealer mobil sport yang dulu dia idamkan ! Dia membuka halaman terakhir Alkitab itu, dan menemukan di situ terselip STNK dan surat-surat lainnya, namanya tercetak di situ. dan sebuah kwitansi pembelian mobil, tanggalnya tepat sehari sebelum hari wisuda itu.

Dia berlari menuju garasi, dan di sana dia menemukan sebuah mobil yang berlapiskan debu selama bertahun-tahun, meskipun mobil itu sudah sangat kotor karena tidak disentuh bertahun-tahun, dia masih mengenal jelas mobil itu, mobil sport yang dia dambakan bertahun-tahun lalu. Dengan buru-buru dia menghapus debu pada jendela mobil dan melongok ke dalam. bagian dalam mobil itu masih baru, plastik membungkus jok mobil dan setirnya, di atas dashboardnya ada sebuah foto, foto ayahnya, sedang tersenyum bangga. Mendadak dia menjadi lemas, lalu terduduk di samping mobil itu, air matanya tidak terhentikan, mengalir terus mengiringi rasa menyesalnya yang tak mungkin diobati........

SEBERAPA MAHAL DAN BERHARGANYA KITA PERNAH KEHILANGAN SEBUAH BARANG, NAMUN TAK SEMENYESAL JIKA KITA KEHILANGAN ORANG-ORANG YANG KITA CINTAI (Sebelum kita meminta maaf padanya)...
Sumbernya

Kisah sedih seorang ayah

Diana Aku adalah seorang ayah dengan 5 orang anak. Ekonomi keluargaku tergolong pas – pas an, aku bekerja sebagai pekerja lapangan dengan hasil yang tak seberapa. Tapi keahlian istriku dalam berjualan dan mengatur ekonomi rumah tangga nantinya dapat mengantarkan anak – anak kami 3 diantaranya menjadi sarjana dan 2 orang lainnya hanya sampai lulus SMA. Kehidupanku sewaktu anak – anak masih belum menikah, sungguh sangat bahagia. Meskipun kadang terdengar ada percekcokan antara mereka, tapi selalu berujung baik. Masalah – masalah pun dapat terselesaikan. Hingga akhirnya istri ku harus menghadap Sang Pencipta. Aku rasa perlahan – lahan sinar mulai menjauh dari keluargaku. Aku sangat terpukul sepeninggal istriku. Rasanya hari – hari yang kulalui masih terbayang selalu.
Rupanya, salah seorang teman dekatku merasa bahwa aku harus segera memiliki pengganti istriku agar aku tidak terus berlarut – larut dalam kesedihan. Lalu pada suatu hari, datanglah seorang wanita dengan membawa seorang anak perempuan ke rumahku. Sebelumnya aku menolak perjodohan itu.Tapi karena didesak oleh anak – anakku,entah bagaimana urutan ceritanya, akhirnya akupun menikah dengan wanita itu. Yang kuingat, jarak antara kematian istriku dengan pernikahan keduaku itu hampir 1 tahun.
Dari pernikahan kedua ini, ternyata istriku tidak seperti yang kubayangkan sebelumnya. Istriku ini sangat mengatur aku, dan apa – apa yang kupunyai termasuk warisan dari istri pertamaku (yang seharusnya milik anak – anakku). Hampir semua keinginannya harus dituruti. Dan kadang aku harus mengalahkan kepentingan anak – anakku. Tapi aku mencoba sabar dan sabar. Rasanya lucu juga kalau diumur setua ini harus bercerai karena ketidakcocokan. Aku malu, jadi aku coba terus bertahan. Bila aku sedang kesal dengan tingkah lakunya, aku coba mengingat – ingat kebaikannya agar aku tidak menyesal karena telah menikah lagi dengannya.
Masalahku bukan hanya ini. Hampir semua anak – anakku mengalami masalah dalam rumah tangganya. Anak - anak perempuanku ternyata memiliki suami dengan karakteristik yang hampir sama. Suami yang ringan tangan dan suka main perempuan. Sedih rasanya melihat anak – anak yang kubesarkan dengan kasih sayang, dipukul dan dilukai oleh suaminya. Semua kejadian itu memang tidak berlangsung di depan mataku. Tapi aku tidak buta. Aku masih bisa melihat bekas – bekas luka itu. Aku tidak lantas menyalahkan menantu laki – lakiku. Aku selalu mencari tahu apa yang jadi penyebab pertengkaran itu. Dan aku juga tahu bahwa anakku tidak bersalah. Karena tidak tahan melihat, aku pernah menyarankan untuk mengakhiri pernikahan saja. Tapi jawaban yang aku dengar hanya, malu atau saya punya anak.. Dan jawaban itu pula yang aku dengar dari anak – anak perempuanku yang lain. Mereka lebih memilih bertahan dengan perkawinan yang seperti itu dari pada mendengarkan perkataanku.
Lain ceritanya dengan anak laki – lakiku. Semua menantu perempuanku ternyata tidak seperti yang kuharapkan. Semuanya, tidak pintar dalam mengelola keuangan, sehingga selalu ada masalah keuangan sampai – sampai harus sering berhutang.Padahal aku lihat, gaji anakku yang diberikan pada menantuku itu lebih dari cukup untuk kebutuhan sebulan. Aku tidak tahu uang itu dikemanakan saja. Intinya, permasalahan dari keluarga anak – anak lakiku adalah keuangan. Hutang sepertinya sudah menjadi hobi. Gali lubang tutup lubang. Sampai – sampai aku memutuskan akan menjual tanah – tanah yang kumiliki untuk segera dibagikan hasilnya. Tapi , istriku yang sekarang menuntut jatah untuk dia dan anak bawaannya. Padahal tanah – tanah itu aku beli ketika masih menikah dengan ibu anak – anakku. Dan hal ini masih menjadi permasalahan sampai sekarang .
Kadang aku berpikir, salah apa yang telah aku perbuat sebelumnya. Setiap malam aku selalu berdoa agar masalah – masalah ini segera berakhir. Dan aku mohon panjangkanlah umurku agar aku masih sempat melihat anak – anakku bahagia.
Sumbernya
sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com