07 February 2015

Pasangan Suami Istri Katolik yang Masuk Islam

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Agnes adalah sosok wanita Katolik taat. Setiap malam, ia beserta keluarganya rutin berdoa bersama. Bahkan, saking taatnya, saat Agnes dilamar Martono, kekasihnya yang beragama Islam, dengan tegas ia mengatakan, “Saya lebih mencintai Yesus Kristus dari pada manusia!”

Ketegasan prinsip Katolik yang dipegang wanita itu menggoyahkan Iman Martono yang muslim, namun jarang melakukan ibadah sebagaimana layaknya orang beragama Islam. Martono pun masuk Katolik, sekedar untuk bisa menikahi Agnes. Tepat tanggal 17 Oktober 1982, mereka melaksanakan pernikahan di Gereja Ignatius, Magelang, Jawa Tengah.

Usai menikah, lalu menyelesaikan kuliahnya di Jogjakarta, Agnes beserta sang suami berangkat ke Bandung, kemudian menetap di salah satu kompleks perumahan di wilayah Timur kota kembang. Kebahagiaan terasa lengkap menghiasi kehidupan keluarga ini dengan kehadiran tiga makhluk kecil buah hati mereka, yakni: Adi, Icha dan Rio.
Di lingkungan barunya, Agnes terlibat aktif sebagai jemaat Gereja Suryalaya, Buah Batu, Bandung. Demikan pula Martono, sang suami. Selain juga aktif di Gereja, Martono saat itu menduduki jabatan penting, sebagai kepala Divisi Properti PT Telkom Cisanggarung, Bandung.
Karena Ketaatan mereka memegang iman Katolik, pasangan ini bersama beberapa sahabat se-iman, sengaja mengumpulkan dana dari tetangga sekitar yang beragama Katolik. Mereka pun berhasil membeli sebuah rumah yang ‘disulap’ menjadi tempat ibadah (Gereja,red).
Uniknya, meski sudah menjadi pemeluk ajaran Katolik, Martono tak melupakan kedua orangtuanya yang beragama Islam. Sebagai manifestasi bakti dan cinta pasangan ini, mereka memberangkatkan ayahanda dan ibundanya Martono ke Mekkah, untuk menunaikan rukun Islam yang kelima.
Hidup harmonis dan berkecukupan mewarnai sekian waktu hari-hari keluarga ini. Sampai satu ketika, kegelisahan menggoncang keduanya. Syahdan, saat itu, Rio, si bungsu yang sangat mereka sayangi jatuh sakit. Panas suhu badan yang tak kunjung reda, membuat mereka segera melarikan Rio ke salah satu rumah sakit Kristen terkenal di wilayah utara Bandung.
Di rumah sakit, usai dilakukan diagnosa, dokter yang menangani saat itu mengatakan bahwa Rio mengalami kelelahan. Akan tetapi Agnes masih saja gelisah dan takut dengan kondisi anak kesayangannya yang tak kunjung membaik.
Saat dipindahkan ke ruangan ICU, Rio, yang masih terkulai lemah, meminta Martono, sang ayah, untuk memanggil ibundanya yang tengah berada di luar ruangan. Martono pun keluar ruangan untuk memberitahu Agnes ihwal permintaan putra bungsunya itu.
Namun, Agnes tak mau masuk ke dalam. Ia hanya mengatakan pada Martono, ”Saya sudah tahu.” Itu saja.
Martono heran. Ia pun kembali masuk ke ruangan dengan rasa penasaran yang masih menggelayut dalam benak.
Di dalam, Rio berucap, “Tapi udahlah, Papah aja, tidak apa-apa.”
“Papah, hidup ini hanya 1 centi. Di sana nggak ada batasnya,” lanjutnya.
Sontak, rasa takjub menyergap Martono. Ucapan bocah mungil buah hatinya yang tengah terbaring lemah itu sungguh mengejutkan. Nasehat kebaikan keluar dari mulutnya seperti orang dewasa yang mengerti agama.
Hingga sore menjelang, Rio kembali berujar, “Pah, Rio mau pulang!”
“Ya, kalau sudah sembuh nanti, kamu boleh pulang sama Papa dan Mama,” jawab Martono.
“Ngga, saya mau pulang sekarang. Papah, Mamah, Rio tunggu di pintu surga!” begitu, ucap Rio, setengah memaksa.
Belum hilang keterkejutan Martono, tiba-tiba ia mendengar ‘bisikan’ yang meminta dia untuk membimbing membacakan syahadat kepada anaknya. Ia kaget dan bingung. Tapi perlahan Rio dituntun sang ayah, Martono, membaca syahadat, hingga kedua mata anak bungsunya itu berlinang. Martono hafal syahadat, karena sebelumnya adalah seorang Muslim.
Tak lama setelah itu ‘bisikan’ kedua terdengar, bahwa setelah adzan Maghrib Rio akan dipanggil sang Pencipta. Meski tambah terkejut, mendengar bisikan itu, Martono pasrah. Benar saja, 27 Juli 1999, persis saat sayup-sayup adzan Maghrib, berkumandang Rio menghembuskan nafas terakhirnya.
Tiba jenazah Rio di rumah duka, peristiwa aneh lagi-lagi terjadi. Agnes yang masih sedih waktu itu seakan melihat Rio menghampirinya dan berkata, “Mah saya tidak mau pakai baju jas mau minta dibalut kain putih aja.”
Saran dari seorang pelayat Muslim, bahwa itu adalah pertanda Rio ingin dishalatkan sebagaimana seorang Muslim yang baru meninggal.
Setelah melalui diskusi dan perdebatan diantara keluarga, jenazah Rio kemudian dibalut pakaian, celana dan sepatu yang serba putih kemudian dishalatkan. Namun, karena banyak pendapat dari keluarga yang tetap harus dimakamkan secara Katolik, jenazah Rio pun akhirnya dimakamkan di Kerkov. Sebuah tempat pemakaman khusus Katolik, di Cimahi, Bandung.
Sepeninggal Rio ...
Sepeninggal anaknya, Agnes sering berdiam diri. Satu hari, ia mendengar bisikan ghaib tentang rumah dan mobil. Bisikan itu berucap, “Rumah adalah rumah Tuhan dan mobil adalah kendaraan menuju Tuhan.”
Pada saat itu juga Agnes langsung teringat ucapan mendiang Rio semasa TK dulu, ”Mah, Mbok Atik nanti mau saya belikan rumah dan mobil!” Mbok Atik adalah seorang muslimah yang bertugas merawat Rio di rumah.
Saat itu Agnes menimpali celoteh si bungsu sambil tersenyum, “Kok Mamah ga dikasih?”
“Mamah kan nanti punya sendiri” jawab Rio, singkat.
Entah mengapa, setelah mendengar bisikan itu, Agnes meminta suaminya untuk mengecek ongkos haji waktu itu. Setelah dicek, dana yang dibutuhkan Rp. 17.850.000.
Dan yang lebih mengherankan, ketika uang duka dibuka, ternyata jumlah totalnya persis senilai Rp 17.850.000, tidak lebih atau kurang sesenpun. Hal ini diartikan Agnes sebagai amanat dari Rio untuk menghajikan Mbok Atik, wanita yang sehari-hari merawat Rio di rumah.
Singkat cerita, di tanah suci, Mekkah, Mbok Atik menghubungi Agnes via telepon. Sambil menangis ia menceritakan bahwa di Mekkah ia bermimpi bertemu Rio. Si bungsu yang baru saja meninggalkan alam dunia itu berpesan dalam mimpinya, “Kepergian Rio tak usah terlalu dipikirkan. Rio sangat bahagia disini. Kalo Mama kangen, berdoa saja.”
Namun, pesan itu tak lantas membuat Agnes tenang. Bahkan Agnes mengalami depresi cukup berat, hingga harus mendapatkan bimbingan dari seorang Psikolog selama 6 bulan.
Satu malam saat tertidur, Agnes dibangunkan oleh suara pria yang berkata, “Buka Alquran surat Yunus!”. Namun, setelah mencari tahu tentang surat Yunus, tak ada seorang pun temannya yang beragama Islam mengerti kandungan makna di dalamnya. Bahkan setelah mendapatkan Al Quran dari sepupunya, dan membacanya berulang-ulang pun, Agnes tetap tak mendapat jawaban.
“Mau Tuhan apa sih?!” protesnya setengah berteriak, sembari menangis tersungkur ke lantai. Dinginnya lantai membuat hatinya berangsur tenang, dan spontan berucap, “Astaghfirullah…”
Tak lama kemudian, akhirnya Agnes menemukan jawabannya sendiri di surat Yunus ayat 49: “Katakan tiap-tiap umat mempunyai ajal. Jika datang ajal, maka mereka tidak dapat mengundurkannya dan tidak (pula) mendahulukannya”.
Beberapa kejadian aneh yang dialami sepeninggal Rio, membuat Agnes berusaha mempelajari Islam lewat beberapa buku. Hingga akhirnya wanita penganut Katolik taat ini berkata, “Ya Allah, terimalah saya sebagai orang Islam, saya tidak mau di-Islamkan oleh orang lain!”.
Setelah memeluk Islam, Agnes secara sembunyi-sembunyi melakukan shalat. Sementara itu, Martono, suaminya, masih rajin pergi ke gereja. Setiap kali diajak ke gereja Agnes selalu menolak dengan berbagai alasan.
Sampai suatu malam, Martono terbangun karena mendengar isak tangis seorang perempuan. Ketika berusaha mencari sumber suara, betapa kagetnya Martono saat melihat istri tercintanya, Agnes, tengah bersujud dengan menggunakan jaket, celana panjang dan syal yang menutupi aurat tubuhnya.
“Lho kok Mamah shalat,” tanya Martono.
“Maafkan saya, Pah. Saya duluan, Papah saya tinggalkan,” jawab Agnes lirih.
Ia pasrah akan segala resiko yang harus ditanggung, bahkan perceraian sekalipun.
Martono pun Akhirnya Kembali ke Islam ...
Sejak keputusan sang istri memeluk Islam, Martono seperti berada di persimpangan. Satu hari, 17 Agustus 2000, Agnes mengantar Adi, putra pertamanya untuk mengikuti lomba adzan yang diadakan panitia Agustus-an di lingkungan tempat mereka tinggal.
Adi sendiri tiba-tiba tertarik untuk mengikuti lomba adzan beberapa hari sebelumnya, meski ia masih Katolik dan berstatus sebagai pelajar di SMA Santa Maria, Bandung. Martono sebetulnya juga diajak ke arena perlombaan, namun menolak dengan alasan harus mengikuti upacara di kantor.
Di tempat lomba yang diikuti 33 peserta itu, Gangsa Raharjo, Psikolog Agnes, berpesan kepada Adi, “Niatkan suara adzan bukan hanya untuk orang yang ada di sekitarmu, tetapi niatkan untuk semesta alam!” ujarnya.
Hasilnya, suara Adzan Adi yang lepas nan merdu, mengalun syahdu, mengundang keheningan dan kekhusyukan siapapun yang mendengar. Hingga bulir-bulir air mata pun mengalir tak terbendung, basahi pipi sang Ibunda tercinta yang larut dalam haru dan bahagia. Tak pelak, panitia pun menobatkan Adi sebagai juara pertama, menyisihkan 33 peserta lainnya.
Usai lomba Agnes dan Adi bersegera pulang. Tiba di rumah, kejutan lain tengah menanti mereka. Saat baru saja membuka pintu kamar, Agnes terkejut melihat Martono, sang suami, tengah melaksanakan shalat. Ia pun spontan terkulai lemah di hadapan suaminya itu. Selesai shalat, Martono langsung meraih sang istri dan mendekapnya erat.
Sambil berderai air mata, ia berucap lirih, “Mah, sekarang Papah sudah masuk Islam.”
Mengetahui hal itu, Adi dan Icha, putra-putri mereka pun mengikuti jejak ayah dan ibunya, memeluk Islam.
Perjalanan panjang yang sungguh mengharu biru. Keluarga ini pun akhirnya memulai babak baru sebagai penganut Muslim yang taat. Hingga kini, esok, dan sampai akhir zaman. Insya Allah.
========================================================================
- (Profil Bapak Martono dan Ibu Agnes juga bisa disimak di Situs Pondok Pesantren Baitul Hidayat (http://baitulhidayah.org/profil-pewakaf/) yang merupakan wakaf dari mereka berdua) -
By : Muhammad Yasin. Diterbitkan oleh Tabloid Alhikmah edisi 32
.... Segala puji bagi Allah, yang dengan nikmat-Nya sempurnalah semua kebaikan ....
Wallahu a'lam bishshawab, ..
… Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci …
…. Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma Wabihamdika Asyhadu Allailaaha Illa Anta Astaghfiruka Wa’atuubu Ilaik ….

Balita yang Membuat Ribuan Orang Masuk Islam

Mungkin saja Anda terheran-heran bahkan juga tak yakin, bila ada orang yang katakan bahwa di zaman moderen ini ada seseorang anak dari keluarga non Muslim yang hafal Al Qur’an serta dapat shalat pada usia 1, 5 th., kuasai lima bhs asing pada umur 5 th., serta sudah mengislamkan kian lebih 1. 000 orang pada umur yang sama. Namun begitulah kenyatannya, serta karena itu ia dikatakan sebagai bocah ajaib ; suatu sinyal kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Syarifuddin Khalifah, nama bocah itu. Ia dilahirkan di kota Arusha, Tanzania. Tanzania yaitu suatu negara di Afrika Timur yang berpenduduk 36 juta jiwa. Seputar 35 % penduduknya beragama Islam, disusul Kristen 30 % serta bekasnya bermacam keyakinan terlebih animism. Tetapi, kota Arusha tempat kelahiran Syarifuddin Khalifah sebagian besar penduduknya beragama Katolik. Di urutan ke-2 yaitu Kristen Anglikan, lalu Yahudi, baru Islam serta paling akhir Hindu.

Seperti umumnya masyarakat Ashura, orang-tua Syarifuddin Khalifah juga beragama Katolik. Ibunya bernama Domisia Kimaro, sedang ayahnya bernama Francis Fudinkira. Satu hari di bln. Desember 1993, tangis bayi membahagiakan keluarga itu. Sadar bahwa bayinya laki-laki, mereka lebih senang lagi.

Seperti pemeluk Katolik yang lain, Domisia serta Francis juga menyongsong bayinya dengan ritual-ritual Nasrani. Mereka juga berkemauan membawa bayi manis itu ke Gereja untuk dibaptis secepat-cepatnya. Tak ada yang aneh waktu mereka mengambil langkah ke Gereja. Tetapi saat mereka nyaris masuk altar gereja, mereka dikagetkan dengan nada yang aneh. Nyatanya nada itu yaitu nada bayi mereka. “Mama usinibibaptize, naamini kwa Allah wa jumbe wake Muhammad! ” (Ibu, tolong janganlah baptis saya. Saya yaitu orang yang beriman pada Allah serta RasulNya, Muhammad). Mendengar itu, Domisia serta Francis gemetar. Keringat dingin bercucuran. Sesudah beradu pandang serta sedikit terlibat perbincangan, mereka mengambil keputusan untuk membawa kembali bayinya pulang. Tak jadi membaptisnya.

Awal Maret 1994, saat usianya melalui dua bln., bayi itu senantiasa menangis saat akan disusui ibunya. Domisia terasa bingung serta cemas bayinya kurang gizi bila tidak ingin minum ASI. Namun, diagnose dokter menyebutkan ia sehat. Kecemasan Domisia tak dapat dibuktikan. Bayinya sehat tanpa ada kekurangan satu apa. Tak ada penjelasan apa pun kenapa Allah mentakdirkan Syarifuddin Khalifah tidak ingin minum ASI dari ibunya sesudah dua bln.. “Apakah lantaran ibunya yaitu seseorang Kristiani? Ataukah ini adalah fase keunikan-keunikan yang setelah itu bakal banyak menemani kehiduan anak ini hingga dia di kenal jutaan manusia di semua dunia juga sebagai anak ajaib? ” Bertanya penulis pada halaman 47.

Di dalam rutinitas bayi-bayi belajar mengatakan satu suku kata seperti panggilan “Ma” atau yang lain, Syarifuddin Khalifah pada usianya yang baru empat bln. mulai keluarkan lafal-lafal “aneh. ” Sebagian tetangga dan keluarga Domisia serta Francis terheran-heran lihat bayi itu bicara. Mulutnya bergerak pelan serta berbunyi : ”Fatuubuu ilaa baari'ikum faqtuluu anfusakum dzaalikum khairun lakum ‘inda baari-ikum, fataaba ‘alaikum innahuu huwat tawwabur rahiim. ”

Beberapa orang yang takjub menyebabkan kegaduhan sesaat tetapi lalu mereka diam dalam keheningan. Sayangnya, saat itu mereka tak tahu bahwa yang di baca Syarifuddin Khalifah yaitu QS. Al Baqarah ayat 54.

Domisia cemas anaknya kerasukan syetan. Ia juga membawa bayi itu ke pastur, namun masih tetap saja Syarifuddin Khalifah mengulang-ulang ayat itu. Sampai lalu narasi bayi kerasukan syetan itu terdengar oleh Abu Ayub, salah seseorang Muslim yang tinggal di daerah itu. Saat Abu Ayub datang, Syarifuddin Khalifah juga membaca ayat itu. Tidak kuasa lihat sinyal kebesaran Allah, Abu Ayub sujud sukur di dekat bayi itu.

“Francis serta Domisia, sebenarnya anak kalian tak kerasukan syetan. Apa yang dibacanya yaitu ayat-ayat Al Qur’an. Intinya ia mengajak kalian bertaubat pada Allah…” kata Abu Ayub.

Sekian waktu kemudian Abu Ayub datang lagi dengan membawa mushaf. Ia menunjukkan pada Francis serta Domisia ayat-ayat yang di baca oleh bayinya. Mereka berdua perlu saat dalam pergulatan batin untuk beriman. Keduanya juga pada akhirnya memperoleh hidayah. Mereka masuk Islam. Setelah masuk Islam tersebut mereka memberi nama untuk anaknya juga sebagai “Syarifuddin Khalifah”.

Keajaiban selanjutnya nampak pada umur 1, 5 th.. Saat itu, Syarifuddin Khalifah dapat lakukan shalat dan menghafal Al Qur’an serta Bible. Lantas pada umur 4-5 th., ia kuasai lima bhs. Pada umur itu Syarifuddin Khalifah mulai lakukan safari dakwah ke beragam penjuru Tanzania sampai ke luar negeri. Akhirnya, kian lebih seribu orang masuk Islam.

Narasi komplit serta detil perihal Syarifuddin Khalifah dapat Anda peroleh di buku “Mukjizat dari Afrika, Bocah yang Mengislamkan Beberapa ribu Orang ; Syarifuddin Khalifah” ini. Berisi yang menarik dengan bhs yang mengalir dan nampaknya bikin buku ini jadi megabestseller, seperti dikampanyekan dalam cover depannya. Terdaftar, dalam rentang empat bln. saja buku karya Mujahidin Nur ini sudah naik bikin sejumlah delapan kali.

25 January 2015

Pesona Air Terjun Madakaripura

keindahan air terjun

Bicara perihal keindahan Air Terjun Madakaripura memanglah telah tak perlu diragukan lagi. Banyak wisatawan yang telah membuktikannya sendiri dengan bertandang segera ke obyek wisata itu. Untuk memperoleh deskripsi lebih terang perihal air terjun madakaripura mari kita simak penjelasannya di bawah ini.

Air Terjun Madakaripura masih tetap ada di lokasi wisata Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru dibagian kota Probolinggo. Tepatnya di desa Sapih, kecamatan Lumbang, kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

Obyek wisata Madakaripura berlokasi di ketinggian 620 dpl (di atas permukaan laut). Object wisata ini terdapat seputar 20 km. ke arah selatan dari jalur pantai utara ruas Kecamatan Tongas, tepatnya dari Kantor Polsek Tongas. Bila dari arah Cemoro Lawang di lokasi wisata Gunung Bromo, seputar 25 km. ke arah barat laut. Bila anda bakal melancong ke Bromo dari Probolinggo, sesampai di desa Sukapura ambillah arah kanan untuk menuju air terjun Madakaripura. Apabila dari Bromo kea rah Probolinggo, kurang lebih dibutuhkan 45 menit perjalanan kea rah utara.

Dari pusat kota kabupaten Probolinggo sendiri, air terjun Madakaripura cuma berjarak 30 km. Tempatnya gampang dijangkau baik dengan kendaraan pribadi ataupun rental. Medan jalan menuju Madakaripura seperti seperti umumnya dataran tinggi, berkelok-kelok serta agak sempit di sebagian ruasnya.

200 Meter

Satu hal yang bikin wisatawan kagum dengan air terjun Madakaripura yaitu ciri khasnya yang meluncur dari ketinggian 200 mtr.. Bukan sekedar itu, di tempat ini ada banyak air terjun lain yg tidak kalah menarik. Namun memanglah yang dari ketinggian 200 mtr. itu yang tertinggi.

Air terjun paling utama di Madakaripura ini jatuhnya terpencar membuat gorden atau titik-titik hujan di teras rumah. Bermain dibawah gorden air terjun ini pasti bakal sangatlah mengasyikkan terasanya seperti masih tetap anak-anak bermain hujan.

Panorama sangatlah menarik bakal anda jumpai di air terjun paling utama. Tebing yang membuat gorden air terjun itu berupa 1/2 lingkaran setinggi 200 mtr.. Dapat dipikirkan, anda seperti ada dalam tabung raksasa.

Dibawah air terjun itu ada kolam sedalam 7 mtr. dengan luas seputar 25 mtr. persegi. Serta di balik air terjun itu ada gua. Bila cukup nyali anda, bisa saja coba berenang menyeberangi kolam sedalam 7 mtr. seluas 25 mtr. persegi dengan arus air yang deras itu. Butuh di perhatikan, lantaran tebing yang tingginya meraih 200 mtr., pada saat-saat spesifik bakal ditutup untuk wisata dengan argumen keamanan, takut longsor.

Dari tempat parkir kendaraan, air terjun paling utama tidaklah terlampau jauh. Cuma jalan kaki seputar 15 menit dengan medan yang telah disediakan. Tak terlampau susah untuk menapaki anak tangga lantaran telah disediakan jalan setapak dari semen dengan ornamen batu agar tak licin.

Asal Usul Nama Madakaripura

Banyak yang yakini nama Madakaripura di ambil dari tokoh kerajaan Majapahit patih Gajah Mada. Diakhir saat hidupnya, ada yang menyampaikan lantaran tidak berhasil wujudkan sumpah palapa, ada pula yang menyampaikan lantaran telah sukses wujudkan sumpah palapa, pergi menyendiri ke tempat ini untuk nikmati saat tuanya jauh dari hingar bingar kehidupan duniawi. Di ruang parker ada patung Gadjah Mada.

Tengah nama Madakaripura sendiri yaitu nama lokasi spesial bebas pajak yang dipunyai mahapatih Gajah Mada dari kerajaan Majapahit.

Keyakinan umum meletakkan tanah ini di kecamatan Tongas, Probolinggo. Pandangan ini didasarkan pada nama Mandhala Hambulu Traya yang dimaksud dalam kitab Negarakertagama (1365), yang disamakan dengan desa Ambulu di kecamatan itu :

Mwang ring mandhala hambulu traya teke dhadhap adulur ikang rawalaris, “Dan di Mandhala Hambulu Traya iringan kereta jalan selalu hingga Dhadhap”

Gomperts, penulis buku “In the footsteps of Hayam Wuruk” temukan suatu dusun bernama Dadapan di desa Grogol, 2 km di samping timur laut kecamatan Gondang Wetan, kabupaten Pasuruan. Dengan anggapan ini, penulis asal Inggris Hadi Sidomulyo lihat kemungkinan bahwa Madakaripura terdapat di kabupaten Pasuruan, pada Grogol serta desa Winongan, 6 km di samping tenggaranya.

Apa pun itu, Air Terjun Madakaripura jadi obyek wisata yang menawan serta romantik diciptaan dengan kekuasaan Sang Maha Pencipta.

Dengan potensi wisata yang mengagumkan itu, sayangnya belum ada fasiltias yang ideal. Tempat parker masih tetap berkesan seadanya. Parkir tak ada karcisnya. Data Google menyebutkan pencarian keyword Madakaripura sedikit, hal semacam ini tunjukkan popularitas Madakaripura belum populer. Menurut pernyataan pemkab Probolinggo sendiri di website resminya, orang-orang Probolinggo sendiri sedikit yang tertarik berkunjung ke Air Terjun Madakaripura.

Tersebut artikel singkat perihal keindahan Air Terjun Madakaripura. Sesudah membaca artikel diatas, saat ini anda sudah memperoleh sedikit deskripsig perihal tempat wisata itu. Anda dapat bertandang setiap saat berbarengan rekan atau keluarga di saat senggang. Tetapi bila anda berdomisili di Kota Malang serta Sekitarnya, anda dapat mencari infonya di Wisata Selecta Batu Malang.

27 September 2013

Biaya Jalan-jalan ke Bulan Rp 14 Triliun

Washington, Wartakotalive.com

Ongkos Berangkat ke Bln Rp14 Triliun

Banyaknya  Luar  angkasa AS (NASA) mendirikan suatu perusahaan swasta yg bertujuan buat mengirimkan manusia ke Bln, pasti saja bila mereka dapat membayar ongkosnya.

Perusahaan yg dikasih nama Golden Spike itu menawari perjalanan ke Bln buat dua orang. Penggemar mungkin orang biasa, perwakilan negeri atau peneliti. Maksud berangkat ke Bln sanggup cuma sekadar jalan-jalan, penelitian atau kebanggaan nasional.

Disayangkan, anggaran jalan-jalan ke Bln tidaklah murah. Pecinta mesti merogoh koceknya sampai 1,5 miliar dolar AS atau seputar Rupiah 14 triliun. Meskipun ongkos jalan-jalan ini mahal sekali, Golden Spike optimistis mampu jalankan 20 kali peluncuran ke bln sebelum 2020.

Terakhir kali NASA mengirimkan manusia ke bln yakni 40 th dulu. Sesudah AS memenangkan apa yg dinamakan "space race" bersama Uni Soviet, sepertinya kesukaan utk kembali ke Bln mulai sejak meredup.

Bahkan, Presiden Barack Obama membatalkan gagasan NASA utk kembali ke Bln. Obama menyampaikan AS telah sempat ke Bln & misi itu telah selesai.

Tapi, Golden Spike sudah melaksanakan pembicaraan dgn jumlahnya negeri yg tertarik bersama rencana kembali ke Bln ini. Begitu Presiden Golden Spike, yg pun mantan petinggi NASA, Alan Stern.

"Bayangkan seandainya negeri sebagaimana Afrika Selatan, Korea Selatan atau Jepang jadi klien kami. Ini bukan menyangkut siapa yg mula-mula tapi ini berkenaan kebanggaan negeri," kata Stern.

"Kami sama seperti menambahkan apa yg dilakukan NASA kepada 1960-an. Kami bakal membuatnya jadi komoditi terhadap 2020," lanjut Stern.

Golden Spike, kata Stern, dapat membeli roket & kapsul yg telah ada. Perusahaan ini pun bakal mengembangkan baju angkasa luar & pendarat bln.

Golden Spike diperkuat para veteran misi angkasa luar & salah satu direkturnya yaitu mantan direktur misi penerbangan di era Apollo, Gerry Griffin yg sempat memimpin Pusat Angkasa Johnson.

Sementara para penasihan perusahaan itu antara lain salah satu calon kandidat presiden Partai Republik Newt Gingrich, mantan dubes AS utk PBB Bill Richardson & insinyur Homer Hickam.
sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com