25 July 2010

Kisah sedih seorang ayah

Diana Aku adalah seorang ayah dengan 5 orang anak. Ekonomi keluargaku tergolong pas – pas an, aku bekerja sebagai pekerja lapangan dengan hasil yang tak seberapa. Tapi keahlian istriku dalam berjualan dan mengatur ekonomi rumah tangga nantinya dapat mengantarkan anak – anak kami 3 diantaranya menjadi sarjana dan 2 orang lainnya hanya sampai lulus SMA. Kehidupanku sewaktu anak – anak masih belum menikah, sungguh sangat bahagia. Meskipun kadang terdengar ada percekcokan antara mereka, tapi selalu berujung baik. Masalah – masalah pun dapat terselesaikan. Hingga akhirnya istri ku harus menghadap Sang Pencipta. Aku rasa perlahan – lahan sinar mulai menjauh dari keluargaku. Aku sangat terpukul sepeninggal istriku. Rasanya hari – hari yang kulalui masih terbayang selalu.
Rupanya, salah seorang teman dekatku merasa bahwa aku harus segera memiliki pengganti istriku agar aku tidak terus berlarut – larut dalam kesedihan. Lalu pada suatu hari, datanglah seorang wanita dengan membawa seorang anak perempuan ke rumahku. Sebelumnya aku menolak perjodohan itu.Tapi karena didesak oleh anak – anakku,entah bagaimana urutan ceritanya, akhirnya akupun menikah dengan wanita itu. Yang kuingat, jarak antara kematian istriku dengan pernikahan keduaku itu hampir 1 tahun.
Dari pernikahan kedua ini, ternyata istriku tidak seperti yang kubayangkan sebelumnya. Istriku ini sangat mengatur aku, dan apa – apa yang kupunyai termasuk warisan dari istri pertamaku (yang seharusnya milik anak – anakku). Hampir semua keinginannya harus dituruti. Dan kadang aku harus mengalahkan kepentingan anak – anakku. Tapi aku mencoba sabar dan sabar. Rasanya lucu juga kalau diumur setua ini harus bercerai karena ketidakcocokan. Aku malu, jadi aku coba terus bertahan. Bila aku sedang kesal dengan tingkah lakunya, aku coba mengingat – ingat kebaikannya agar aku tidak menyesal karena telah menikah lagi dengannya.
Masalahku bukan hanya ini. Hampir semua anak – anakku mengalami masalah dalam rumah tangganya. Anak - anak perempuanku ternyata memiliki suami dengan karakteristik yang hampir sama. Suami yang ringan tangan dan suka main perempuan. Sedih rasanya melihat anak – anak yang kubesarkan dengan kasih sayang, dipukul dan dilukai oleh suaminya. Semua kejadian itu memang tidak berlangsung di depan mataku. Tapi aku tidak buta. Aku masih bisa melihat bekas – bekas luka itu. Aku tidak lantas menyalahkan menantu laki – lakiku. Aku selalu mencari tahu apa yang jadi penyebab pertengkaran itu. Dan aku juga tahu bahwa anakku tidak bersalah. Karena tidak tahan melihat, aku pernah menyarankan untuk mengakhiri pernikahan saja. Tapi jawaban yang aku dengar hanya, malu atau saya punya anak.. Dan jawaban itu pula yang aku dengar dari anak – anak perempuanku yang lain. Mereka lebih memilih bertahan dengan perkawinan yang seperti itu dari pada mendengarkan perkataanku.
Lain ceritanya dengan anak laki – lakiku. Semua menantu perempuanku ternyata tidak seperti yang kuharapkan. Semuanya, tidak pintar dalam mengelola keuangan, sehingga selalu ada masalah keuangan sampai – sampai harus sering berhutang.Padahal aku lihat, gaji anakku yang diberikan pada menantuku itu lebih dari cukup untuk kebutuhan sebulan. Aku tidak tahu uang itu dikemanakan saja. Intinya, permasalahan dari keluarga anak – anak lakiku adalah keuangan. Hutang sepertinya sudah menjadi hobi. Gali lubang tutup lubang. Sampai – sampai aku memutuskan akan menjual tanah – tanah yang kumiliki untuk segera dibagikan hasilnya. Tapi , istriku yang sekarang menuntut jatah untuk dia dan anak bawaannya. Padahal tanah – tanah itu aku beli ketika masih menikah dengan ibu anak – anakku. Dan hal ini masih menjadi permasalahan sampai sekarang .
Kadang aku berpikir, salah apa yang telah aku perbuat sebelumnya. Setiap malam aku selalu berdoa agar masalah – masalah ini segera berakhir. Dan aku mohon panjangkanlah umurku agar aku masih sempat melihat anak – anakku bahagia.
Sumbernya

0 komentar:

Post a Comment

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com